Akan Adanya Lockdown dan Statmen Dewan “Mayat Bergelimpangan”, Aktivis PMII Itu Ngawur

Bengkulu,Newsikal.com- Menyikapi ucapan salah satu anggota perwakilan rakyat, Mayat bergelimpangan terjangkit wabah Corana Virus atau Covid-19 di belahan Negara di dunia Khususnya di provinsi Bengkulu. Menjadi sorotan kalangan aktivis, kali ini aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bengkulu angkat suara. Senin (30/03)

Wakil Sekretaris Koodirnator Pengurus Cabang(PKC) Bengkulu Angga Andika Pratama,S.Sos menyampaikan, ia meminta kepada semua pihak Pemerintah Provinsi Bengkulu agar tidak mengambil lankah Lockdown.

“Saya meminta kepada semua petinggi di Provinsi Bengkulu untuk tidak mengambil langkah atau tidak perlu lockdown. Menurut saya kalau Bengkulu lockdown, apakah pemerintah siap menafkahi semua masyarakat di Provinsi Bengkulu yang terdiri dari 9 kabupaten 1 kota ini, yang mayoritas pekerjaannya adalah buruh, petani dan berjualan di pasar,”kata Angga

Kemudian Angga juga menyampaikan soal adanya Ungkapan “mayat bergelimpangan” yang di ucapkan oleh seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Bengkulu yang katanya memperjuangkan rakyatnya, dinilai tidak etis penyampaiannya.

“Saya rasa perkataan itu tidak tepat untuk di ucapkan oleh wakil rakyat, seharusnya saat ini kita berbicara bagaimana penanganannya,bagaimana solusinya biar virus ini tidak berdampak di Provinsi Bengkulu, bukan malah membuat statemen yang menurut saya itu ngawur.Harusnya seorang wakil rakyat itu menghimbau kepada rakyatnya bagaimana cara pola hidup sehat, bukan menekan pemerintah minta lockdown. Karena tidak semua lockdown itu bebas dari virus, contoh di India.”Tandas Anggara.

Selain itu, ia berpendapat bahwa Lockdown dapat mematikan mata pencarian rakyat yang berkerjanya di perkebunan,persawahan dan lain sebagainya. Karena menurutnya, Anggota Dewan punya gaji besar, punya dana aspirasi,punya tunjangan,punya jaminan kesehatan. Pejabat pemda, pemkot, dan pemprov punya gaji tetap,tunjangan,jaminan kesehatan. PNS gaji tetap,tunjangan kesehatan.

“Nah,kalau masyarakat biasa tidak punya penghasilan tetap, yang nyadap karet harga getah murah. Bahkan terhitung mulai tanggal 1 april pabrik karet tutup, jadi penghasilan mereka dari mana? mau jualan di pasar, pasar di tutup. Jadi solusinya gimana?.”Ujar Anggara.

Terakhir ia mempertanyakan,”Apakah pemkab,pemkot,pemprov, DPRD Provinsi, DPRD Kota,DPRD Kabupaten siap menafkahi rakyat se provinsi Bengkulu, jikalau keputusan lockdown ini diambil.oleh pemerintah. Harapan saya, semua itu harus di pikirkan matang-matang dan harus lebih banyak belajar dalam merespon setiap masalah,” tutup Anggara.(Rr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close