Ekonomi Provinsi Bengkulu Tumbuh Baik

BENGKULU, newsikal.com – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu, kembali merilis Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) triwulan ke IV tahun 2017. Disampaikan BI, kinerja perekonomian Provinsi Bengkulu triwulan IV 2017 masih melanjutkan perlambatan yang terjadi pada triwulan sebelumnya. Ekonomi tumbuh 4,60% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan III 2017 yang tercatat 4.90% (yoy).

Di sisi permintaan, melambatnya pertumbuhan bersumber pada konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT dan investasi, sementara di sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan bersumber dari sektor konstruksi, serta sektor perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor.

Kepala Kantor Pwrwakilan Bank Indobesia Bengkulu, Endang Kurnia Saputra, menyampaikan, faktor perlambatan bersumber dari rendahnya realisasi investasi khususnya yang bersumber dari pembiayaan pemerintah daerah serta masih stagnannya perkembangan harga-harga komoditas.

“Secara keseluruhan perekonomian Provinsi Bengkulu tahun 2017 tumbuh 4,99% (yoy), lebih rendah dibandingkan kondisi nasional yang tercatat sebesar 5.07% (yoy),” ujarnya.

Tekanan inflasi pada triwulan IV 2017 tercatat sebesar 3,56% 6oy), relatif stabil dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,54% (yoy). Tekanan inflasi pada triwulan laporan bersumber dari kelompok administered prices dan
kelompok inti. Meningkatnya inflasi kelompok administered prices bersumber dari peningkatan tarif angkutan udara menjelang hari Natal dan libur akhir tahun, sementara meningkatnya inflasi kelompok inti didorong oleh peningkatan ekspektasi konsumsi masyarakat pada triwulan laporan.

“Dengan perkembangan tersebut, laju inflasi Bengkulu pada tahun 2017 berada di bawah laju inflasi nasional (3,61%), namun masih berada di atas inflasi Sumatera (3,30%),” cetus Endang.

Ia juga menjelaskan, aktivitas sektor korporasi pada triwulan IV 2017 masih melanjutkan tren kontraksinya meskipun mengalami perbaikan apabila dibandingkan triwulan sebelumnya. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Provinsi Bengkulu
mencatat, perbaikan kinerja korporasi terjadi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan Perikanan dan sektor Perdagangan, hotel, dan restoran.

Lebih jauh, Endang mengatakan, masih berlanjutnya tren kontraksi sektor korporasi tersebut tercermin dari akses pembiayaan, likuiditas dan rentabilitas yang masih mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Meskipun kinerja korporasi masih dalam tren kontraksi, eksposur perbankan di sektor korporasi mengalami perbaikan yang ditandai dengan tingkat NPL yang stabil dan wajar pada triwulan laporan. Sementara itu, ketahanan sektor rumah tangga pada triwulan IV 2017 cukup terjaga, yang tercermin dari stabilnya kinerja pembiayaan dan terjaganya tingkat risiko (NPL) kredit non-produktif. Namun demikian, tingkat penghimpunan dana sektor rumah tangga mengalamai perlambatan.

Selain itu, perekonomian Bengkulu pada triwulan ll 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5.1-5.3%
dengan tren meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perkiraan membaiknya ekonomi Bengkulu tahun 2018 didukung oleh kenaikan permintaan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan kegiatan investasi.

Potensi peningkatan konsumsi rumah tangga pada periode Ramadhan, lanjutnya, didukung oleh peningkatan pendapatan masyarakat seiring perkiraan perbaikan harga dunia untuk CPO dan karet, kebijakan kenaikan UMP tahun 2018 dan penerapan TPP PNS di beberapa pemda.

“Di sisi sektoral, kinerja sektor utama diperkirakan membaik. Sektor pertanian diperkirakan mengalami perbaikan, didukung juga oleh proyeksi perbaikan permintaan global atas komoditas karet dan sawit, serta pelemahan sementara produksi karet Thailand,” terangnya.

Peningkatan juga akan terjadi pada sektor transportasi, selain
dampak kenaikan permintaan pada Idul Fitri, beberapa jalur penerbangan baru saat ini telah dalam proses realsasi seperti rute Bengkulu -Bandung dan
Bengkulu-Lampung.

Secara keseluruhan, ungkap Endang, perekonomian Bengkulu tahun 2018 dperkirakan tumbuh lebih baik dibandingkan 2017. Perekonomian tumbuh pada kisaran 52.54%. lebih tinggi dbandingkan pencapaian tahun 2017 sebesar 4.9%.

Terkait Iinflasi, diperkirakan pada triwulan II 2018 berada pada kisaran 3.7-3.9% (yoy) dengan kecenderungan
meningkat dibandingkan perkiraan pada triwulan I 2018. Tekanan permintaan pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri mendorong inflasi volatile food (VF) adiministered price (AP) dan inti mengalami kenaikan. Beberapa komoditas inflatoir volatile food yang memiliki pola kenaikan harga selama 5 tahun terakhir, karena pengaruh musim dan cuaca adalah beras, cabai merah dan bawang merah.

Sementara itu, inflasi AP akan cenderung mengalami kenaikan memasuki periode peak season ldul Fitri. Dampak kenaikan AP juga diperkirakan meningkat seiring dengan proyeksi kenaikan harga minyak dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close