KETERAMPILAN  PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI PADA WANITA USIA SUBUR

Ditulis oleh KETUA : NISPI YULYANA, SST, M.Keb, ELLY WAHYUNI, SST, M. Pd, WEWET SAVITRI, SST, M. Keb, SUCI SOLIHAT, SST, M.Keb,

Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian pada wanita di seluruh dunia.  World Health Organization (WHO) memperkirakan insidensi kanker payudara didunia menunjukkan setiap 3 menit ditemukan penderita kanker payudara. Pada tahun 2020, setiap 11 menit ditemukan seorang wanita meninggal akibat kanker payudara, dimana 10 dari 100 ribu wanita dan diperkirakan akan meningkat 2 kali lipat (Ditjen pencegahan dan pengendalian penyakit Kemenkes, 2021).

Angka kejadian penyakit kanker di Indonesia sebanyak 136.2/100.000 penduduk) berada pada urutan 8 di Asia Tenggara, sedangkan di Asia urutan ke 23. Angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk perempuan adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk.  Prevalensi tumor/kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1.4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018 (Profil Kesehatan Indonesia, 2020).

Data Provinsi Bengkulu Menyebutkan bahwa dari 1967 wanita usia subur yg dilakukan pemeriksaan leher rahim dan payudara didapatkan  kejadian kanker payudara tahun 2020 sebanyak 24 wanita dan yang mengalami tumor atau benjolan payudara 41 orang dan 70 wanita dengan IVA positif. (Dinkes Kota Bengkulu, 2020).

Penyebab kanker payudara sampai saat ini Belum diketahui apa yang menyebabkan sel-sel tersebut berubah menjadi sel kanker. Akan tetapi, terdapat dugaan bahwa faktor genetik, gaya hidup, lingkungan, dan hormon memiliki keterkaitan dengan terbentuknya kanker payudara (Nareza, 2021).

Kanker  payudara  berpeluang besar untuk disembuhkan jika ditemukan pada  tahap  awal dengan melakukan deteksi dini  “pemeriksaan  payudara sendiri”  atau  dikenal  dengan istilah  SADARI. Dengan melakukan deteksi dini dapat menekankan angka kematian sebesar 25-30 %. Dengan melakukan deteksi dini seperti Sadari diperlukannya minat dan kesadaran akan pentingnya kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup seta menjaga kualitas hidup untuk lebih baik (Savitri et al., 2015).

Waktu yang tepat untuk melakukan SADARI yaitu hari ke 7 sampai 10 terhitung sejak hari pertama menstruasi atau pada saat payudara lemas dan tidak keras/bengkak, dianjurkan dilakukan sendiri ketika memasuki usia 20 tahun, serta tidak memerlukan biaya (Rahayu, Kartika dan Mahmudah, 2020).

Sosialisasi SADARI pada wanita dilakukan melalui kegiatan edukasi menggunakan berbagai metode diantaranya berupa ceramah, leaflet, booklet dan media massa untuk memberi visualisasi kepada wanita usia subur tentang kanker payudara, tanda dan gejala, faktor risiko, dan pencegahan dengan pemeriksaan sadari yang diharapkan dapat mempengaruhi cara berpikir wanita usia subur terhadap kanker payudara agar menjadi lebih waspada (Putri, 2019).

kegiatan sosialisasi SADARI, wanita usia subur akan memiliki keterampilan melakukan SADARI yang lebih baik sebagai langkah awal  untuk mengetahui apakah menderita kanker payudara atau tidak,  sehingga menjadi  motivasi  para  wanita  untuk meningkatkan  keterampilannya tentang  deteksi   dini   kanker payudara dengan melakukan SADARI. Jika ditemukan wanita dengan benjolan patologis maka akan dilajutkan pemeriksaan oleh petugas kesehatan yaitu pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) (Rahayu, Kartika dan Mahmudah, 2020).

Penelitian yang dilakukan oleh Salmiyah (2018) tentang pengaruh pendidikan sebaya terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan siswi sma tentang pemeriksaan payudara sendiri (sadari) menunjukkan terdapat perbedaan sebelum dan sesudah diberikan edukasi dan pelatihan sadari oleh pendidik sebaya pada kelompok intervensi, pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,000) dan keterampilan (0,000).

Penelitian yang dilakukan oleh Hartuti dan Pradani (2020) tentang efektifitas pendidikan kesehatan media audio visual (video) dan demonstrasi terhadap ketrampilan praktik sadari menunjukkan hasil ada pengaruh efektifitas pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi dan media audio visual (video) terhadap ketrampilan praktik sadari di SMK Batik 2 Surakarta.

Data dari Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu, Provinsi Bengkulu masuk kedalam 10 Provinsi yang memiliki cakupan rendah dalam pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) dan pemeriksaan IVA dibawah 5%, Berdasarkan data dari Dinas kesehatan Kota Bengkulu tahun 2020 dari 62.160 WUS pemeriksaan SADANIS dan IVA tes hanya 1967 orang (….%). Wilayah Kerja Puskesmas Padang Serai Kecamatan Kampung Melayu  merupakan wilayah tertinggi yang memiliki angka kejadian curiga dan tumor atau benjolan payudara tertinggi di Kota Bengkulu. Wilayah Kerja Puskesmas Padang Serai Kecamatan Kampung Melayu memiliki 3 kelurahan yaitu kelurahan Sumber Jaya, kelurahan Padang Serai dan kelurahan Teluk Sepang. Wilayah Kerja Puskesmas Padang Serai Kecamatan Kampung Melayu memiliki 3.356 WUS, yang diperiksa sebanyak 331 orang. Untuk data curiga kanker payudara sebanyak 12 orang dan yang mengalami tumor atau benjolan payudara sebanyak 13 orang. Angka kejadian kanker payudara ini berada di Kelurahan Sumber Jaya

Kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Kesehatan reproduksi juga dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman (Undang-undang  Kesehatan nomor 36 tahun 2009).

Masalah kesehatan reproduksi di Indonesia kurang mendapat perhatian yang cukup akibat pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi seringkali masih dianggap tabu. Karena itu perlu adanya kesadaran dan peran serta dari berbagai instansi terkait untuk mampu memberikan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Hal ini dapat dilakukan secara nyata melalui upaya penyuluhan.

Kanker payudara di Indonesia menjadi masalah besar dalam pelayanan kesehatan karena memberikan banyak resiko bagi kesehatan reproduksi wanita. Hal ini diperkirakan akibat program penyuluhan tentang kanker payudara dan sosialisasi perawatan payudara sendiri masing kurang. Penyuluhan ini khususnya bagi bagi WUS yang berusia 30-50 tahun

Wilayah Kerja Puskesmas Padang Serai Kecamatan kampung melayu memiliki WUS yang berusia 30 – 50 tahun sebanyak 3356 jiwa, dengan angka kejadian kanker payudara dan yang mengalami tumor/benjolan payudara terbanyak  kelurahan sumber jaya yang dapat menjadi lokasi pengabdian kepada masyarakat dengan permasalahan kesehatan perempuan dan masyarakat yang perlu diperbaiki. Kegiatan pengabdian masyarakat ini akan menjadikan Kelurahan Sumber Jaya sebagai model gerakan kelompok WUS peduli deteksi dini kanker payudara.  Kegiatan ini melibatkan berbagai mitra. Mitra dalam  kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah:

1.      Unsur pemerintah (Pihak Kelurahan)

2.      Keluarga sebagai tempat wanita usia subur mendapatkan pendidikan

3.      Puskesmas Padang Serai Kecamatan Kampung Melayu yang memberikan kontribusi terkait tenaga kesehatan yang membantu kegiatan pendataan dan memfasilitasi kegiatan penyuluhan.

Berdasarkan analisis situasi data Profil Dinas Kesehatan Kota Bengkulu maka dapat diketahui permasalahan mitra adalah masih kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang perawatan payudara sendiri (SADARI) pada WUS.

Wanita usia subur mempunyai kemampuan dalam melakukan deteksi dini kanker payudara yaitu dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri di wilayah kelurahan Sumber Jaya Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu

1.       Manfaat bagi Keluarga dan Masyarakat:

Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat menjadi  motivasi  para  wanita  untuk meningkatkan  keterampilannya tentang  deteksi   dini   kanker payudara dengan melakukan SADARI dan membentuk Kelompok WUS yang merupakan wadah untuk melaksanakan bimbingan, pembinaan, dan memberikan pengetahuan kepada WUS lainnya

2.       Manfaat bagi Institusi Pendidikan:

Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini akan meningkatkan kemampuan dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu untuk memberdayakan kemampuan dan pengetahuan dan keterampilan WUS tentang pemeriksaan payudara sendiri.

Manfaat bagi Puskesmas

Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini akan meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama keluarga dan diharapkan kesadaran keluarga dan WUS tentang deteksi   dini   kanker payudara dengan melakukan SADARI.

Bagi Kemenkes dan Sektor terkait:

Kegiatan ini dapat diimplementasikan di lokasi lain untuk menurunkan prevalensi kejadian kanker payudara

Solusi yang  ditawarkan untuk menangani permasalahan yang  terjadi pada mitra adalah :

1.       Peningkatan pengetahun WUS tentang keterampilan pemeriksaan payudara sendiri

2.       Peningkatan peran petugas kesehatan melalui pendampingan WUS dalam melakukan keterampilan pemeriksaan payudara sendiri

3.       Terbentuknya kelompok WUS untuk melakukan edukasi deteksi dini kanker  payudara melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan pemeriksaan payudara sendiri

Adapun intervensi yang akan diberikan pada Pembinaan Kelompok WUS sebagai Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara meliputi

a.         Pengertian kanker  payudara

b.        Penyebab kanker  payudara

c.         Jenis kanker  payudara

d.        Pemicu kanker  payudara

e.         Beberapa faktor berdasarkan tingkat resiko terkait kanker payudara

f.          Gejala dan tanda kanker payudara

g.        Pencegahan kanker payudara

h.        Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI}

Kesimpulan dari kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilaksanakan yaitu:

a.      Adanya peningkatan pengetahuan WUS setelah dilakukan sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya

b.      WUS memiliki keterampilan melakukan SADARI

c.      Terbentuknya kelompok WUS untuk melakukan edukasi deteksi dini kanker  payudara melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan pemeriksaan payudara sendiri

Mengingat pentingnya kegiatan pengabdian masyarakat ini, maka diharapkan perlunya:

1.      Pendampingan dari pihak bimbingan konseling di sekolah bagi remaja siswa/wi, dan juga dari pihak BKKBN (Binda Remaja) dalam meningkatkan pengetahuan tentang kesiapan menghadapi gejolak pubertas dan solusi yang tepat dalam menghadapi permasalahannya.

2.      Sekolah mempersiapkan dan memfasilitasi bimbingan, sarana, dan prasarana sebagai bentuk kontribusi terhadap kelancaran kegiatan kelas PIK-R remaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button