Optimalisasi Remaja Produktif Lewat Pendampingan Pembentukan Kelas PIK-R Pro di SMAN 11 Kota Bengkulu

Tim : Dwie Yunita Baska, SST, M.Keb, Nispi Yulyana, SST,M.Keb, dan Elvi Destariyani,SST, M.Kes

BENGKULU, newsikal.com – Era modernisasi dan canggihnya teknologi yang dirasakan, tak mengelakkan munculnya perubahan cara berfikir, kebiasaan, sampai dengan lifestyle atau gaya hidup saat ini. Dampak yang paling nyata terhadap fenomena tersebut dialami oleh generasi Z, atau yang kita kenal sebagai generasi muda yang lahir pada tahun 1997 – 2012 dan berusia antara 9-24 tahun pada 2021 (dilansir dari kompas.com).

Bukan hanya dampak positif yang dirasakan karena kemajuan teknologi tersebut, namun banyak pula fenomena masalah yang terjadi di masa remaja, khususnya di Indonesia. Masa remaja dikenal sebagai masa kritis kedua, dimana seseorang mulai tumbuh dari masa kanak-kanak menuju masa penemuan jati diri, pada saat-saat seperti inilah biasanya para remaja akan bertingkah sembarangan tanpa memikirkan akibat atau dampak apa yang akan ditimbulkan oleh hasil perbuatannya.

Pembentukkan jati diri pada masa remaja seyogyanya bisa dilakukan dengan sebaik mungkin. Perkembangan yang sangat menonjol terjadi pada masa remaja adalah pencapaian kemandirian serta identitas (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) serta semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.

Dikatakan Dwie Yunita Baska, salah satu tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Bengkulu ini, remaja pada masa perkembangannya dihadapkan pada tuntutan yang sering bertentangan, baik dari orangtua, guru, teman sebaya, maupun masyarakat di sekitar. Sehingga mereka juga sering dihadapkan pada berbagai kesempatan dan pilihan, yang semuanya itu dapat menimbulkan permasalahan bagi mereka.

“Permasalahan tersebut salah satunya yaitu risiko-risiko kesehatan reproduksi. Risiko-risiko itu adalah seks bebas, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), aborsi, penyakit menular seksual (PMS), HIV/AIDS, kekerasan seksual, serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan Kesehatan,” ungkapnya.

Dijelaskannya, Poltekkes Kemenkes Bengkulu bekerja sama dengan Kepala Sekolah SMA Negeri 11 Kelurahan Kandang Mas Kota Bengkulu, Unit Bimbingan Konseling (BK) sekolah, dan melibatkan Mitra BKKBN Kota Bengkulu (Bina Remaja), melalui upaya kegiatan pengabdian kepada masyarakat melakukan pendampingan dalam pembentukkan PIK-R PRO di SMAN 11 tersebut, dengan sasaran utama adalah siswa-siswi kelas X yang menjadi perwakilan dari masing-masing kelas, berjumlah sebanyak 20 orang. Kegiatan ini berlangsung pada bulan Maret s.d April 2022, dengan tim Dosen Pengabmas Poltekkes Kemenkes Bengkulu yang beranggotakan sebanyak tiga orang, yaitu Dwie Yunita Baska, SST, M.Keb, Nispi Yulyana, SST, M.Keb, dan Elvi Destariyani, SST, M.Kes.

“Kegiatan pembentukan Kelas PIK-R PRO SMAN 11 ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas kesehatan remaja melalui pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) yang umumnya menjadi salah satu program Puskesmas setempat. Pendampingan dibentuknya Kelas PIK-R PRO merupakan singkatan arti kata “Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) Produktif” yang ada di SMA Negeri 11,” tuturnya.

Tujuan dibentuknya kelas ini, sambungnya, adalah supaya siswa-siswi yang terjaring akan dibekali pengetahuan dasar untuk menjadi konselor sebaya dan menjadi wadah pusat informasi konseling remaja di sekolahnya. Siswa-siswi yang telah mendapatkan pembekalan awal ini diharapkan mampu berperan sebagai agen pengubah teman sebayanya untuk berperilaku sehat, dapat menjadi sumber informasi atau tempat curhat yang ramah remaja, serta menciptakan lingkungan positif dan produktif.

“Pendampingan ini dilaksanakan sebanyak dua kali kegiatan, yang pertama dimulai dengan pembentukkan organisasi pengurus inti kelas, dan dilanjutkan dengan sesi pembekalan yakni pemberian materi atau peyuluhan dari tim Dosen Pegabmas dan rekan Mitra Bina Remaja BKKBN Kota Bengkulu. Sebelum materi penyuluhan diberikan, dilakukan uji pretest pengetahuan terhadap siswa-siswi yang terlibat seputar materi kesehatan remaja dan perkembangannya,” terang Dwie.

Setelah itu, dilanjutkan dengan penjelasan materi, simulasi penayangan video, dan sesi Roleplay atau bermain peran. Besok harinya, pada kegiatan kedua, dilanjutkan dengan pembekalan materi dan sebelum acara penutupan diberikan kembali postest kuesioner.

Kesimpulan dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung dengan baik. Proses pembentukkan Kelas PIK-R PRO di SMAN 11 disambut baik oleh pihak Sekolah, termasuk unsur perangkat sekolah dan guru yang bersedia mendampingi selama proses kegiatan, keikutsertaan dari pihak Bina Remaja BKKN, serta terlihat dari keaktifan peran peserta yang sangat antusias selama mengikuti kegiatan pembekalan berlangsung.

“Dari hasil penilaian kuesioner pre-post test diperoleh peningkatan skor rata-rata sebesar ±7.5 terhadap tingkat pengetahuan siswa/wi setelah diberikan sosialisasi dan edukasi tentang kesehatan remaja dan perkembangannya,” cetusnya.

Dirinya menuturkan, perwakilan pihak peserta sangat berterimakasih sekali kepada pelaksana karena telah berbagi pemahaman serta wawasan baru berkenaan dengan keterampilan dan peran agen konselor sebaya. Selanjutnya, diharapkan adanya perhatian dari pihak sekolah dalam mempersiapkan dan memfasilitasi bimbingan, sarana, dan prasarana sebagai bentuk kontribusi terhadap kelancaran kegiatan kelas PIK-R Pro agar terus berkesinambungan.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button

You cannot copy content of this page

Close