Pembelajaran Blended Learning sebagai Alternatif Pembelajaran di Masa Pandemi

Oleh Afriani Pancawati, S.Pd SMAN 3 Kota Bengkulu

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pandemi yang diakibatkan covid-19 pada awal tahun 2020 melanda berbagai negara di dunia. Virus  ini berdampak pada berbagai sektor,  dan sektor yang paling  nyata  sebagai dampak  pandemi adalah sektor  pendidikan. Dampak yang terlihat yakni  kebingungan para pendidik dalam menerapkan kegiatan belajar mengajar di tengah-tengah keterbatasan gerak dan sarana. Kebijakan pemerintah untuk mengurangi penyebaran covid-19 ini salah satunya meniadakan Ujian Nasional (UN) tahun 2020 dan tatap muka dalam kegiatan pembelajaran dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19) (Mendikbud RI, 2020). Seluruh masyarakat dianjurkan kerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah. Maka dari itu, kegiatan pembelajaran dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring). Para pendidik mulai membuka kembali berbagai metode alternatif yang bisa digunakan dalam masa-masa daring ini. Tentu hal ini tidaklah mudah, mengingat proses ini dilakukan dalam waktu cepat dan harus dilakukan.

Metode  pembelajaran  merupakan  implementasi  dari  rencana  yang  ada  pada strategi pembelajaran. Maka dengan metode yang dipilih dalam pembelajaran diharapkan bisa mencapai tujuan pembelajaran seefisien dan seefektif mungkin..

Dalam masa pandemi ini, guru dan berbagai kalangan lainnya yang terlibat dalam dunia pendidikan mencari haluan baru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan sebelum masa-masa belajar dari rumah. Tren media online tentu merupakan alternatif dalam pelaksanaan pembelajaran pada masa pandemi. Meski terdapat media online khususnya penggunaan sosial media yang sudah akrab dengan masyarakat, tidak menjamin pelaksanaan daring bisa berjalan dengan mulus. Berbagai hambatan juga sering muncul dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Dan ini kembali mendorong guru untuk terus berinovasi dengan berbagai pilihan alternatif agar proses pembelajaran terus berlangsung.

Saat pembelajaran online/daring, semua kegiatan pembelajaran harus mulai menyesuaikan dengan keadaan pandemi. Untuk mendukung kegiatan pembelajaran selama di rumah pemerintah juga menerbitkan pedoman pengelenggaraan belajar dari rumah (BDR) melalui Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 sehingga memperkuat surat edaran sebelumnya tentang pelaksanaan pembelajaran pada masa covid-19. Oleh karena itu, aktivitas dan penugasan saat belajar di rumah bisa bervariasi sesuai dengan kondisi, minat dan fasilitas yang ada di daerah masing-masing (Kemdikbud, 2020).

Namun demikian, ketidaksiapan sarana, skill, waktu dan biaya merupakan hambatan-hambatan yang umum dijumpai sehingga banyak dari pembelajaran daring ini menjadi sulit untuk mengontrol siswa dan mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Ada beberapa penelitian terdahulu yang menunjukkan kendala- kendala tersebut, seperti yang terjadi pada wali murid yakni  kesulitan  dalam  mendampingi  anak  belajar, banyaknya beban belajar anak sehingga sulit memahami materi, terkendala kuota serta keterbatasan media. Yang demikian juga terjadi dalam pembelajaran tingkat anak usia dini pada masa pandemi, seperti sarana dan prasarana, kurangnya pemahaman, ketidaksiapan guru dan orangtua bahkan penilaian juga menjadi problem dalam hal ini (Harahap et al., 2021). Tidak menutup kenyataan bahwa di tingkat pendidikan tinggi juga mengalami kendala serupa sehingga perkuliahan tidak berjalan maksimal dan motivasi belajar menurun (Khasanah et al., 2020). Dalam kaitannya dengan  pandemi  yang  melanda,  sistem  ini  sudah  membantu  meminimalisir  penyebaran  covid -19  (Nina Nurmila, Maslani, Tarsono, 2020), namun berbagai problema proses pendidikan di atas menjadi perhatian besar untuk bisa segera diatasi.

Oleh sebab itu, sebagai tenaga pendidik sudah seharusnya kita mempersiapkan sistem pembelajaran yang efektif dan inovatif agar proses pembelajaran di rumah dapat berjalan lancar dan efektif. Salah satu yang menjadi solusi tepat dalam pembelajaran jarak jauh menggunakan sistem blanded learning. Blended learning is the combination of different training“media”(technologies, activities, and types of events) to create an optimum training program for a specific audience   (Bersin, 2004). Blended learning,  a  combination  of  face-to-face  and  online  instruction  (Grgurovic,  2011).  Pernyataan Grgurovic selaras dengan pendapat yang dikemukakan oleh Matukhin dan Zhitkova (2015) menyatakan bahwa Blended learning is a combination of face-to-face learning with Internet-based training, especially of the second generation, which allows participants to cooperate in the educational process. Secara  garis  besar  Blended  learning  merupakan  sistem  pembelajaran  yang  memadukan  sistem tradisional dengan sistem modern dalam hal ini penggunaan teknologi. Sehingga siswa dapat berinteraksi  dengan  guru  meskipun  mereka  berada  di  tempat  yang  berbeda.  Tentunya  sistem tersebut  sangat  tepat  sekali  jika  diterapkan  di  masa pandemi covid 19 ini.

Selain   itu,   keuntungan   dengan   sistem   pembelajaran   menggunakan   blanded   learnig   dapat memberikan  keamanan  dan  kenyamanan  bagi  siswa,  dimana  siswa  mampu  mengakses  semua materi pelajaran dengan mudah dan dimana saja tanpa harus keluar dari rumah. Sehingga guru tidak perlu setiap pertemuan harus mempersiapkan materi secara terus menerus. Guru dapat menyimpan dan memanfaatkan beberapa aplikasi teknologi yang mendukung proses belajar mengajar selama masa pandemic covid 19.

1.2 Rumusan Masalah

            Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :

  1. Media apa yang banyak digunakan dalam proses pembelajaran di masa pandemi Covid-19?
  2. Apa kelebihan dan kendala pembelajaran daring?
  3. Bagaimana blended learning dapat menjadi alternatif pembelajaran di masa pandemi?
    • Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah :

  1. Mengetahui media apa yang digunakan guru saat pembelaran di masa pandemi Covid-19.
  2. Mengetahui kelebihan dan kendala pelaksanaan pembelajaran daring
  3. Mengetahui bagaimana blended learning dapat menjadi alternatif pembelajaran di masa pandemi.

1.4 Manfaat makalah

Tujuan penulisan makalah adalah untuk mendapatkan beberapa manfaat yaitu :

  1. Bagi Sekolah, makalah ini sebagai tambahan referensi di perpustakaan.
  2. Bagi Guru, untuk menambah wawasan guru tentang model blended learning sebagai model pembelajaran di masa pandemi.
  3. Bagi Siswa dapat menambah referensi ilmu
  4. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang media pembelajaran dan model pembelajaran yang bisa digunakan di masa pandemi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran yang dilakukan dengan tidak bertatap muka langsung, tetapi menggunakan platform yang dapat membantu proses belajar mengajar yang dilakukan meskipun jarak jauh. Ada beberapa aplikasi juga dapat membantu kegiatan belajar mengajar, misalnya whatsapp, zoom, web blog, edmodo dan lain-lain. Pemerintah juga mengambil peran dalam menangani ketimpangan kegiatan  belajar  selama  pandemi  covid  19  ini.  Melansir  laman  resmi  Kemendikbud  RI,  ada  12 platform atau aplikasi yang bisa diakses pelajar untuk belajar di rumah yaitu (1) Rumah belajar; (2) Meja kita; (3) Icando; (4) Indonesiax; (5) Google for education; (6) Kelas pintar; (7) Microsoft office 365; (8) Quipper school (9) Ruang guru; (10) Sekolahmu; (11) Zenius; (12) Cisco webex.

Tantangan  dari  adanya  pembelajaran  daring  salah  satunya  adalah  keahlian  dalam  penggunaan teknologi dari pihak pendidik maupun peserta didik. Dabbagh (dalam Hasanah, dkk., 2020:3) menyebutkan bahwa ciri-ciri peserta didik dalam aktivitas belajar daring atau secara online yaitu :

  1. Semangat belajar : semangat pelajar pada saat proses pembelajaran kuat atau tinggi guna pembelajaran mandiri.
  2. Literasi terhadap teknologi : selain kemandirian terhadap kegiatan belajar, tingkat pemahaman pelajar terhadap pemakaian teknologi. Sebelum pembelajaran daring/online siswa harus melakukan  penguasaan  terhadap  teknolologi  yang  akan
  3. Kemampuan berkomunikasi  Kemampuan  interpersonal sebagai salah satu syarat untuk keberhasilan dalam pembelajaran daring. Kemampuan interpersonal dibutuhkan guna menjalin hubungan  serta  interaksi  antar  pelajar  lainnya.
  4. Berkolaborasi : memahami dan memakai pembelajaran interaksi dan kolaborasi. Pelajar harus mampu berinteraksi antar pelajar lainnya ataupun dengan guru pada sebuah forum yang telah disediakan, karena dalam pembelajaran daring yang melaksanakan adalah pelajar itu sendiri. Dengan adanya pembelajaran daring juga pelajar mampu memahami pembelajaran dengan kolaborasi. Pelajar juga akan dilatih supaya mampu berkolaborasi baik dengan lingkungan sekitar atau dengan bermacam sistem yang mendukung pembelajaran daring.
  5. Keterampilan untuk belajar mandiri: salah satu karakteristik pembelajaran daring adalah kemampuan dalam belajar mandiri. “Pembelajaran mandiri merupakan proses dimana siswa dilibatkan secara langsung dalam mengidentifikasi apa yang perlu untuk dipelajari menjadi pemegang kendali dalam proses pembelajaran”(Kirkman dalam Hasanah,2020). Ketika belajar secara mandiri, dibutuhkan motivasi sebagai penunjang keberhasilan proses pembelajaran secara daring.

2.2 Aplikasi dalam Pembelajaran Daring

Ada  12 platform atau aplikasi yang bisa diakses pelajar untuk belajar di rumah oleh Kemendikbud yaitu (1) Rumah belajar; (2) Meja kita; (3) Icando; (4) Indonesiax; (5) Google for education; (6) Kelas pintar; (7) Microsoft office 365; (8) Quipper school (9) Ruang guru; (10) Sekolahmu; (11) Zenius; (12) Cisco webex. Tidak hanya itu, berikut beberapa aplikasi yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar online sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sarana prasarana pendukung  yang ada di sekolah sekarang ini.

  1. Aplikasi Whatshapp

Whatsapp adalah aplikasi pengiriman pesan dapat berupa mengirim gambar, suara dan bahkan video. Penggunaan Whatsapp sekarang ini sangat memasyarakat. Hampir setiap orang sudah mampu menggunakan WA mulai dari anak-anak hingga orang tua. Aplikasi ini adalah aplikasi yang paling banyak digunakan pada awal masa pembelajran daring.

  1. Aplikasi Google Classroom

Google Classroom (atau dalam bahasa Indonesia yaitu Ruang Kelas Google) adalah suatu aplikasi pembelajaran campuran yang diperuntukkan terhadap setiap ruang lingkup pendidikan untuk menemukan jalan keluar atas kesulitan dalam membuat, membagikan dan menggolong-golongkan setiap penugasan tanpa kertas. Sejak 12 Agustus 2014 perangkat lunak ini telah diperkenalkan sebagai keistimewaan Google Apps for Education. Kelas membantu pengajar untuk membuat dan mengatur tugas dengan cepat, memberi masukan secara efisien, dan berkomunikasi dengan mudah dengan kelasnya.

  1. Aplikasi Zoom Meeting

Aplikasi Zoom meeting merupakan aplikasi komunikasi dengan menggunakan video yang dapat digunakan dalam berbagai perangkat seluler, desktop, dan laptop. Aplikasi ini dapat digunakan untuk melakukan meeting hingga konferensi video dan audio antara guru dan siswa. Dengan menggunakan zoom meeting guru dan siswa dapat bertatap muka langsung dan melakukan kegiatan belajar mengajar.

2.3 Blended Learning

Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan melalui penggunan media berbasis teknologi adalah model blended learning. Menurut Driscol (2002) Blended learning merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan atau menggabungkan berbagai teknologi berbasis web, untuk mencapai tujuan pendidikan.

Penerapan model pembelajaran blended learning dalam kegiatan pembelajaran disekolah menunjukkan peningkatan positif terhadap hasil pembelajaran. Menurut Garner &Oke (2015), pembelajaran blended learning merupakan sebuah lingkungan pembelajaran yang dirancang dengan menyatukan pembelajaran tatap muka (face to face/F2F) dengan pembelajaran online yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Gambar 2.1 Ilustrasi pembelajaran blended learning.

Heinze A dan Procter C,( 2010) menyatakan bahwa blended learning adalah campuran dari berbagai strategi pembelajaran dan metode penyampaian yang akan mengoptimalkan pengalaman belajar bagi penggunanya. Bonk dan Graham (2006) mendefinisikan blended learning sebagai kombinasi dari dua intruksi model belajar dan mengajar: sistem pembelajaran tradisional dan sistem pembelajaran terdistribusi yang menekankan pada peran teknologi komputer.

Dengan  pelaksanaan  blended learning ini,  pembelajaran  berlangsung  lebih bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh. Sedangkan Driscoll (2002) menyebutkan empat konsep mengenai pembelajaran  blended learning yaitu:

  1. Blended learningmerupakan pembelajaran yang mengkombinasikan atau menggabungkan berbagai teknologi berbasis web, untuk mencapai tujuan pendidika
  2. Blended learning  merupakan   kombinasi   dari   berbagai   pendekatan pembelajaran (seperti behaviorisme, konstruktivisme, kognitivis-me) untuk menghasilkan suatu pencapaian pembelajaran yang optimal dengan atau tanpa teknologi pembelajara
  3. Blended learningjuga  merupakan  kombinasi  banyak  format  teknologi pembelajaran,  seperti  video tape, CD-ROM,  web-based training, film) dengan pembelajaran tatap muka.
  4. Blended learning menggabungkan teknologi pembelajaran dengan perintah tugas kerja aktual untuk menciptakan pengaruh yang baik pada pembelajaran dan tugas.

Melalui blended  learning  dapat  menciptakan  lingkungan  belajar  yang  positif  untuk terjadinya interaksi antara sesama peserta didik, dan peserta didik dengan pendidiknya tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Secara mendasar terdapat tiga tahapan dasar dalam model blended learning yang mengacu pembelajaran berbasis ICT (Ramsay, 2001):

(1) Seeking of information

Mencakup pencarian informasi dari berbagai sumber informasi yang tersedia secara online maupun offline dengan berdasarkan pada relevansi, validitas,reliabilitas konten dan kejelasan akademis. Pendidik atau fasilitator berperan memberi masukan bagi peserta didik untuk mencari informasi yang efektif dan efisien.

(2) Acquisition of information

Peserta didik secara individu maupun secara kelompok kooperatif-kolaboratif berupaya untuk menemukan, memahami, serta mengkonfrontasikannya dengan ide atau gagasan yang telah ada dalam pikiran peserta didik, kemudian menginterprestasikan informasi/pengetahuan dari berbagai sumber yang tersedia, sampai mereka mampu mengkomunikasikan kembali dan menginterpretasikan ide-ide dan hasil interprestasinya menggunakan fasilitas

(3) Synthesizing of knowledge

Mengkonstruksi/merekonstruksi pengetahuan melalui proses asimilasi dan akomodasi bertolak dari hasil analisis, diskusi dan perumusan kesimpulan dari informasi yang diperoleh.

Pradnyana (2013) menyebutkan tujuan dari pembelajaran blended learning adalah:

  1. Membantu peserta didik untuk berkembang lebih baik di dalam proses belajar, sesuai dengan gaya belajar dan preferensi dalam belajar.
  2. Menyediakan peluang yang praktis realistis bagi pendidik dan peserta didik untuk pembelajaran secara mandiri, bermanfaat, dan terus berkembang.
  3. Peningkatan penjadwalan    fleksibilitas    bagi    peserta    didik,    dengan menggabungkan aspek terbaik dari tatap muka dan instruksi online.
  4. Kelas tatap muka dapat digunakan untuk melibatkan para peserta didik dalam pengalaman interaktif. Sedangkan porsi online memberikan peserta didik dengan konten multimedia yang kaya akan pengetahuan pada setiap saat, dan di mana saja selama peserta didik memiliki akses Internet.
  5. Mengatasi masalah pembelajaran yang membutuhkan penyelesaian melalui penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi.

 

BAB III

METODE

Adapun metode yang digunakan ialah kajian literatur yang dikenal juga dengan. Kajian literatur ini merujuk pada kajian teoritis dan referensi lain yang berhubungan dengan nilai, sosial budaya dan norma yang berkembang pada situasi sosial yang diteliti. Karena itu penelitian jenis ini akan mengumpulkan dan mengkaji dari literatur-literatur ilmiah (Sugiyono, 2019).

Setelah mengamati, melaksanakan dan berdiskusi dengan teman-teman guru, melaksanakan pembelajaran daring sejak Maret 2020, penulis menentukan topik penelitian. Setelah ditentukan topik terkait penelitian, penulis mengumpulkan data yang sesuai untuk dikaji dalam penelitian ini baik berupa jurnal penelitian nasional maupun internasional, kebijakan pemerintah terkait pembelajaran di rumah pada masa pandemi, artikel, surat kabar serta literartur lainnya yang menunjang. Oleh karena itu, teknis analisis data yang digunakan yakni secara kualitatif dengan model Miles and Huberman (Sugiyono, 2019) yaitu melalui empat tahapan analisis. Pertama data collecting (pengumpulan data) yakni mencari data berupa literatur baik jurnal penelitian, peraturan pemerintah tentang proses pembelajaran masa pandemi, artikel dan surat kabar. Kedua data reduction (reduksi data) yakni merangkum, memilih hal-hal yang pokok dan penting dari data yang diperoleh. Tahap ketiga data display (penyajian data) yaitu dalam library research ini bentuk penyajian data dibuat dengan membuat uraian dalam teks yang bersifat naratif. Terakhir tahap keempat adalah conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan dan verifikasi) yaitu setelah memilih data-data penting dari literatur terkait topik yang diteliti dan menarasikan dalam bentuk deskriptif, maka berikutnya adalah mengambil kesimpulan. Di tahap ini akan tergambar rumusan masalah atau temuan dari penelitian tentang analisis pembelajaran daring selama pandemi.

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Fenomena Pembelajaran Daring dengan aplikasi/media pembelajaran yang digunakan pada masa pandemi

Sebelum pandemi covid-19 ini terjadi, pembelajaran online/daring sudah ada dan beberapa sudah menerapkan dengan menggunakan beberapa platform pembelajaran daring yang berbasis pada penggunaan internet. Di Indonesia jarang ditemukan pembelajaran daring dan masih menggunakan pembelajaran konvensional.

Online learning (pembelajaran daring) adalah bentuk dari pembelajaran jarak jauh yakni guru dan siswa tidak  ada  dalam  ruang  yang  sama  sehingga  guru  menggunakan  media  untuk  tran sfer  ilmu.  Awal  mula pembelajaran daring dikenal yaitu sebagai pengaruh dari perkembangan pembelajaran berbasis elektronik ( e- learning) yang diperkenalkan oleh Universitas Illionis melalui sistem pembelajaran berbasis komputer (Hardiayanto). Pembelajaran daring merupakan suatu sistem pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa belajar lebih luas, lebih banyak, dan bervariasi. Konten atau materi yang ada dalam fasilitas tersebut mampu memberikan siswa pilihan yang bervariasi yakni tidak hanya dalam bentuk werbal, melainkan bisa dilengkapi dengan audio, visual dan gerak. Tentu ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa sehingga membantu dalam memahami pesan yang disampaikan. Karena sistem ini berbasis internet, maka juga mampu diakses kapan dan dimana saja sehingga pembelajaran juga semakin fleksibel (Riyana, 2015). Maka demikian dapat dipahami bahwa secara umum pembelajaran daring sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional atau tatap muka langsung. Dalam pembelajaran daring membutuhkan kemandirian siswa dalam belajar dan mengolah informasi dari materi yang diberikan secara daring.

Setahun terakhir ini sudah banyak dilakukan pembelajaran daring di sekolah-sekolah bahkan kampus-kampus di seluruh Indonesia. Walaupun fenomena ini terjadi sebagai dampak dari pandemi, tahap demi tahap masyarakat mulai mengakrabkan diri dengan pembelajaran daring. Sebagai langkah sederhana, pembelajaran daring dimulai dengan memanfaatkan media sosial yang ada, familiar dan mudah digunakan seperti whatsapp (WA), telegram dan youtube. Tidak sedikit juga masyarakat menggunakan aplikasi yang memang dibuat untuk proses pembelajaran seperti google classroom, Edmodo, google meet atau zoom.

Seperti  yang  terjadi  di  Provinsi  Bengkulu,  pembelajaran  daring  juga  dilaksanakan  dengan  akses internet. Berdasar data yang diperoleh dari wawancara perwakilan guru SMA di Bengkulu Whatsapp paling banyak digunakan guru , diikuti dengan penggunaan Google Classroom. Guru umumnya mengadobsi Youtube dalam pembelajaran dan sedikit guru memanfaatkan Google Meeting atau Zoom. Dari data tersebut dapat dibaca bahwa penggunaan aplikasi Whatsapp menduduki tempat pertama yakni paling banyak digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Meski Whatsapp bukan dirancang untuk media pembelajaran, namun dengan fitur yang disediakan seperti kemampuan mengirim pesan, foto, video, link, maupun melampirkan tugas-tugas pembelajaran sudah sangat membantu dalam terlaksananya proses pembelajaran jarak jauh / daring pada masa pandemi (Kristina et al., 2020).

Sebelum  pandemi  covid-19  melanda,  penggunaan  WA  dalam  proses  pembelajaran  juga  pernah dilakukan. Hasilnya bahkan 85% siswa menanggapi positif dan terbantu dalam proses pembelajaran dengan menggunakan WA. Dari   temuan-temuan   di   atas   fenomena   whatsapp   (WA)   sebagai   media yang diminati   siswa menunjukkan bahwa kemudahan dan kepraktisannya sebagai tolak ukur mereka memilik aplikasi tersebut.

Akan tetapi kelemahan yang bisa terjadi dengan menggunakan media WA ini yaitu menyebabkan kapasitas penyimpanan handphone cepat penuh, sehingga kinerja hp akan melambat. Sebagai alternatif, maka guru menggunakan media lain untuk mengurangi kelemahan tersebut dengan menggunakan google classroom atau email untuk mengumpulkan tugas-tugasnya (Tasropi, 2020).

Guru-guru akhirnya sudah banyak belajar menggunakan google classroom dalam melaksanakan pembelajaran. Aplikasi ini memudahkan guru mengatur proses pembelajaran, karena bisa disusun secara tersistematis. Siswa pun mudah mengakses pelajaran, mengecek tugas, dan mengumpulkan tugas serta melihat nilai yang diberikan dari guru terhadap tugas-tugas yang diberikan. Guru dan siswa dapat juga berdiskusi dalam forum kelas. Namun, aplikasi-aplikasi tidak bisa menggantikan guru sebagai role model. Siswa juga membutuhkan berinteraksi langsung dengan teman dan guru. Untuk itu, perlu alternative pembelajaran untuk bisa mengkombinasikan teknologi dan pembelajaran tatap muka yang disebut dengan blended learning.

4.2 Ciri Umum Pembelajaran Daring Serta Kelebihan Dan Kendalanya

Terdapat beberapa ciri pembelajaran daring secara umum yang disampaikan oleh para ahli. Inti ciri umum ini diambil dari beberapa teori dan pendekatan terkait pembelajaran daring. Akan tetapi secara garis besar menurut Flinders University, yaitu Personal, Structured, Active dan Connective. Berikut penjelasannya (Riyana, 2015):

  1. Pembelajaran Individu. Dalam pembelajaran daring siswa menciptakan sendiri pengalaman belajarnya. Siswa dituntut untuk mandiri secara pribadi dalam mengikuti pembelajaran. Sistem daring ini juga bisa meminimalisir waktu yakni tidak perlu melakukan perjalanan ke sekolah atau kampus dan menyiapkan banyak hal untuk berangkat ke sekolah.
  2. 2. Terstruktur dan Sistematis. Pembelajaran daring bisa jadi lebih fleksibel, namun tugas guru atau pendidik tetap harus dipenuhi agar tujuan tetap bisa tercapai bahkan bisa melampaui harapan. Salah satu tugasnya yaitu merencanakan   pembelajaran.
  3. 3. Mengutamakan Keaktifan Siswa. Baik dalam pembelajaran tatap muka (konvensional) maupun daring, keaktifan siswa harus terlibat sehingga proses pembelajaran terasa hidup. Sebagai salah satu contoh tidak memberi kesempatan atau menyediakan forum diskusi untuk menanyakan materi yang dipelajari. Meskipun ada, tidak sedikit siswa yang mengabaikan kesempatan tersebut. Sebab lainnya yang banyak dijumpai juga yaitu beberapa siswa hanya mengisi daftar hadir dan tidak aktif lagi hingga proses pembelajaran selesai (Asmuni, 2020).
  4. Keterhubungan. Di awal disampaikan bahwa salah satu ciri pembelajaran daring yakni secara mandiri. Mandiri dalam belajar tetap ada komunikasi dengan siswa yang lain dan juga guru atau guru secara online atau daring pula. Inilah yang dimaksud ada keterhubungan dalam pembelajaran daring. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran tentu ada komunakasi terkait materi baik berupa diskusi, konsultasi atau komunikasi biasa dengan sesama teman.

Dari ciri-ciri di atas bisa dipahami bahwa dengan pembelajaran daring proses belajar mengajar akan semakin fleksibel. Bisa diakses dan dilakukan dimana dan kapanpun saja. Beberapa keuntungan pembelajaran daring yakni efisien, bisa akses dimana dan kapan saja sesuai keinginan, terjangkau seperti tidak perlunya biaya transportasi dan jajan, kehadiran siswa meningkat karna mudah akses dimana dan kapanpun, terdapat variasi pilihan model dan gaya belajar (Gautam Priyanka, 2020). Pembelajaran ini tidak hanya memberikan kesempatan yang belum ada sebelumnya pada pelajar, tapi juga mengurangi biaya pendidikan yang cukup tinggi (Huong & Giau, 2020).

4.3 Model blended learning

Fakta di atas menggambarkan bahwa pembelajaran daring tidak bisa secara penuh memenuhi kebutuhan dalam pendidikan. Ada banyak pengalaman yang bisa diambil dari pembelajaran tatap muka. Maka beberapa lembaga  pendidikan  juga  mengambil  model campuran untuk  mendapat  lebih  banyak  pengalaman  dalam belajar. Blended learning represents a combination of face-to-face experiences and online learning experiences. Pengalaman dari pembelajaran daring dan tatap muka akan membantu menawarkan kesempatan untuk mencapai tujuan pendidikan lebih lanjut (Míguez-Álvarez et al., 2020). Secara mendasar terdapat tiga tahapan dasar dalam model blended learning yang mengacu pembelajaran berbasis ICT (Ramsay, 2001): 1) Sintak Seeking of Information, 2) Sintak Acquisition of information, 3)  Sintak Synthesizing Knowledge

Blended learning atau pembelajaran gabungan merupakan konsep pembelajaran yang menggabungkan antara pembelajaran online/daring dengan tatap muka. Model ini dapat dijadikan alternatif dan menjawab persoalan pembelajaran daring secara penuh (e-learning) yang tidak bisa menjangkau semua daerah dan beberapa aspek pendidikan yang tidak bisa disampaikan hanya dengan daring (Handoko & Waskito, 2018). Selain Blended learning bisa menjadi jawaban dari kelemahan yang ada pada pembelajaran  online, juga mampu menjadi solusi bagi pembelajaran tatap muka yang selalu terikat tempat dan waktu sehingga bisa menjadi lebih fleksibel dan menjangkau luas pengalaman belajar. Di sisi lain, ada hal signifikan dalam dunia pendidikan yang juga tidak bisa disampaikan secara daring, seperti nilai-nilai moral yang butuh role model dan juga praktikum yang butuh bimbingan, fasilitas dan kerja nyata.

Dari kelebihan yang dimiliki pembelajaran daring, seperti kemampuan mandiri dalam belajar siswa dan motivasi belajar yang tinggi akan mampu untuk memaksimalkan potensi siswa secara mandiri pula. Ini sesuai dengan temuan bahwa bahwa model pembelajaran Blended Learning efektif untuk meningkatkan kemandirian belajar  peserta  didik  program  paket  C  di  Pusat  Kegiatan  Belajar  Masyarakat  (Sutisna,  2016).  Namun demikian, karena masa pandemi masih berlangsung, maka pelaksanaan pembelajaran model ini harus memenuhi protokol kesehatan dan sesuai aturan yang berlaku sebagaimana Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes), dan Menteri  Dalam  Negeri  (Mendagri)  tentang  Panduan  Penyelenggaraan  Pembelajaran  pada  Tahun  Ajaran 2020/2021  dan  Tahun  Akademik  2020/2021  di  Masa  Pandemi  Coronavirus  Disease  2019  (Covid -19), belajar dapat dilakukan secara tatap muka dan dalam jaringan Tahun 2021. Maka kendala belajar  daring  yang  bisa  menurunkan  kompetensi  generasi  peserta  didik  khususnya  dalam  memenuhi kebutuhan praktik dapat diatasi dengan model blended learning diharapkan pembelajaran akan lebih efektif dan bermakna.

 

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari  beberapa  sumber  literatur  dan  penelitian  yang  ada  ditemukan  bahwa  pembelajara n  daring merupakan kebiasaan baru yang sudah tidak asing dijumpai dalam dunia pendidikan. Dari jenjang pendidikan dasar hingga  perguruan tinggi melaksana sistem pembelajaran daring/online. Ciri  pembelajaran  daring terdapat empat hal di dalamnya yakni Personal, Structured, Active dan Connective. Dari ciri-ciri di atas bisa diambil kesimpulan bahwa pembelajaran daring merupakan alternatif terbaik untuk kegiatan pembelajaran pada masa pandemi. Hal ini karena pembelajaran daring bisa dilakukan dimana dan kapan saja. Media yang digunakan bisa bervariasi, namun aplikasi whatsapp merupakan salah satu media yang banyak dipilih dan digunakan untuk peroses pembelajaran baik di tingkat sekolah dasar bahkan di perguruan tinggi. Hal ini karena kemudahan dan kepraktisan media sosial tersebut yang disertai berbagai fitur pilihan yang mampu mengirim file, gambar, video, link, dan panggilan video. Media yang sangat familier di masyarakat ini menjadi pilihan favorit yang bisa membantu proses pembelajaran tetap berlangsung khususnya pada masa pandemi. Tidak hanya itu, meningkatnya kemampuan guru akan teknologi berdampak positif sehingga guru sudah memenfaatkan aplikasi goggle classroom dalam pembelajaran dan media teleconference.

Kefleksibelan pembelajaran daring bukan berarti tanpa kendala. Karena berbasis internet dan menuntut kemandirian dalam belajar, maka kendala fasilitas, kuota, jaringan yang sulit diakses, skill guru dan wali murid yang mendampingi belajar serta motivasi atau kemauan dari invidu juga tidak jarang menjadi kendala tersendiri bagi kegiatan pembelajaran daring untuk mencapai maksimal. Oleh karena itu, melihat kendala yang banyak dirasakan siswa, guru dan juga wali murid namun juga tidak menafinakan manfaat dan kelebihan pembelajaran daring, maka blended learning bisa jadi solusi. Hal ini juga bisa jadi peluang untuk penelitian selanjutnya untuk mengkaji lebih dalam tentang blended learning sebagai harapan baru dalam pendidikan di masa depan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bersin, J. (2004). The  Blended Learning Book. San Fransisco: Pfeiffer.

Curtis      J.Bonk,   Charles   R.   Graham.   (2006).   The   Handbook  of   Blended learning.USA:Pfeiffer

Driscoll, M. (2002) Blended Learning: Let’s Get beyond the Hype. IBM Global Services.

Grant Ramsay. 2001. Teaching and Learning With Information and Communication Technology: Succes Through a Whole School

Grgurovic, M. (2011). Blended Learning in  an ESL Class: A Case Study, 29(1), 100–117

Harahap, S. A., Dimyati, D., & Purwanta, E. (2021). Problematika Pembelajaran Daring dan Luring Anak Usia Dini bagi Guru dan Orang tua di Masa Pandemi Covid 19. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.1013

Heinze, A. & Procter, CT. (2004). Reflections on the use of Blended Learning, in: Education in a Changing Environment, 13-14 September 2004, University of Salford, UK.

Kemdikbud. (2020). Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah. Jakarta, 28 Mei 2020.

Khasanah, M. N., Ningrum, T., & Aprilia, I. R. (2020). Analisis Kendala Siswa Pendidikan Biologi Universitas Tidar Saat Pembelajaran Daring Di Masa Pandemi Covid-19. Nectar : Jurnal Pendidikan Biologi.

Matukhin.   D   dan  Zhitkova.   E.  2015.   Implementing  Blended   Learning   Technology   in   Higher Professional  Education.  Procedia  –  Social  and  Behavioral  Sciences  206  (  2015  )  183  –  188.  doi: 10.1016/j.sbspro.2015.10.051

Mendikbud RI. (2020). Surat Edaran Mendikbud RI Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19). Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Nina Nurmila, Maslani, Tarsono, L. S. (2020). Optimalisasi Pembelajaran Daring di UIN SGD Bandung dalam Upaya Menghentikan Penyebaran Virus Corona. Digital Library UIN Sunan Gunung Jati.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan (Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, R&D dan Penelitian pendidikan ) (Apri Nuryanto (ed.); 3rd ed.). Penerbit Alfabeta.

Sutisna, A. (2016). Pengembangan Model Pembelajaran Blended Learning pada Pendidikan Kesetaraan Program Paket C dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar. JTP – Jurnal Teknologi Pendidikan. https://doi.org/10.21009/jtp1803.2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
Close