Pemberdayaan Kader Edukasi Kepada Ibu Hamil dan Ibu Balita Dapat Meningkatkan Pengetahuan dan Kemampuan Skrining Risiko Stunting pada Balita di Sukaraja

Ditulis oleh Sri Yanniarti, SST.,M.Keb., Eliana, SKM.,MPH., Dr. Susilo Damarini, SKM,MPH., Lusi Andriyani, SST, M. Kes., Rolita Efriani, SST, M.Keb., Jumiyati, SST,M.GIZI

Peraturan Presiden RI Nomor 42 tahun 2013 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang salah satunya diprioritaskan pada1000 HPK. Stunting merupakan masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan gizi dalam waktu lama pada masa 1000 hari pertama kehidupan (HPK)  yang merupakan masa kritis, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian.

Penanganan stunting ini menjadi perhatian karena ini menjadi kebijakan strategis nasional, khusus di Bengkulu ada 4 Kabupaten yang menjadi lokus, di Bengkulu Utara, Seluma, Bengkulu Selatan dan Kaur. Tahun 2020 di Kabupaten Seluma telah melaksanakan 8 aksi integrasi penuruan stunting. Sasaran dalam aksi konvergensi pencegahan dan penurunan stunting sendiri ada 6 target yaitu, Remaja Putri, Ibu Hamil, Ibu Nifas, Bayi 0-2 Tahun, Keluarga Penerima PKH dan Kader Pembangunan Manusia (KPM). Inovasi aksi Daerah Kabupaten Seluma dalam Penurunan Stunting dan AKI/AKN atau bisa di sebut “BEREMIS” aksi inovasi ini dibuat dengan tujuan agar program kegiatan dapat berjalan dengan efektif dan efisien sebagai motivasi dan penyemangat dalam melakukan kegiatan pencegahan dan penurunan stunting. Selain itu upaya pelaksanaan pilar transformasi SDM kesehatan dilakukan juga untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan adalah melalui academic health system yaitu sebuah model kebijakan yang mengakomodir potensi masing-masing institusi pendidikan kesehatan ke dalam satu rangkaian visi yang berbasis pada kebutuhan masyarakat. Untuk itu Institusi Poltekkes Kemenkes Bengkulu melakukan kegiatan pengabdian masyarakat bagi dosen dengan skema Program Kemitraan Wilayah (PKW).

Kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan oleh Dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu adalah kegiatan pemberdayaan kader dan edukasi kepada ibu hamil dan ibu balita dalam upaya pencegahan  stunting pada balita melalui kegiatan pelatihan di wilayah Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. Hal ini karena faktor risiko stunting diantaranya adalah keluarga dengan ibu hamil dan dengan anak usia 0-59 bulan. Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi, salah satunya adalah Faktor ibu dikarenakan nutrisi yang buruk selama prekonsepsi, kehamilan, dan laktasi. Selain itu juga dipengaruhi perawakan ibu seperti usia ibu terlalu muda atau terlalu tua, pendek, infeksi, kehamilan muda, kesehatan jiwa, BBLR, IUGR dan persalinan prematur, jarak persalinan yang dekat dan hipertensi (Sandra Fikawati dkk, 2017).

Menurut Delmi Sulastri (2012) pendidikan ibu yang rendah dapat mempengaruhi pola asuh dan perawatan anak. Selain itu juga berpengaruh dalam pemilihan dan cara penyajian makanan yang akan dikonsumsi oleh anaknya.Penyediaan bahan dan menu makan yang tepat untuk balita dalam upaya peningkatan status gizi akan dapat terwujud bila ibu mempunyai tingkat pengetahuan gizi yang baik. Ibu dengan pendidikan rendah antara lain akan sulit menyerap informasi gizi sehingga anak dapat beresiko mengalami stunting. pengetahuan gizi yang rendah dapat menghambat usaha perbaikan gizi yang baik pada keluarga maupun masyarakat sadar gizi artinya tidak hanya mengetahui gizi tetapi harus mengerti dan mau berbuat. Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tentang kebutuhan akan zat-zat gizi berpengaruh terhadap jumlah dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi. Penetahuan gizi merupakan salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap konsumsi pangan dan status gizi. Ibu yang cukup pengetahuan gizinya akan memperhatikan kebutuhan gizi anaknya agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Faktor lingkungan rumah, juga merupakan factor tidak langsung yang menyebabkab stunting, dikarenakan oleh stimulasi dan aktivitas yang tidak adekuat, penerapan asuhan yang buruk, ketidakamanan pangan, alokasi pangan yang tidak tepat, rendahnya edukasi pengasuh. Anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas air dan sanitasi yang baik beresiko mengalami stunting (Putri dan Sukandar, 2012).

Faktor penyebab lainnya yang menyebabkan stunting pada anak, yaitu: a)Kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi sebelum hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan, b)Terbatasnya akses pelayanan kesehatan, termasuk layanan kehamilan dan postnatal (setelah melahirkan). c)Kurangnya akses air bersih dan sanitasi. d)Masih kurangnya akses makanan bergizi karena tergolong mahal. Sehingga untuk mencegahnya, ibu hamil perlu menghindari faktor tersebut.

Diperlukan upaya preventif untuk menurunkan angka kejadian stunting salah satunya adalah dengan kegiatan sosialisasi dan edukasi melalui pelatihan pada kader Kesehatan dan ibu hamil dan ibu dengan anak balita untuk mencegah dan menurunkan kejadian stunting. Upaya preventif seharusnya dimulai sebelum kelahiran melalui perinatal care dan gizi ibu, kemudian preventif tersebut dilanjutkan sampai anak berusia dua tahun. Periode kritis dalam mencegah stunting dimulai sejak janin sampai anak berusia 2 tahun yang biasa disebut dengan periode 1.000 hari pertama kehidupan. Intervensi berbasis evidence diperlukan untuk menurunkan anka kejadian stunting di Indonesia.

Gizi maternal perlu diperhatikan melalui monitoring status gizi ibu selama kehamilan melalui ANC serta pemantauan dan perbaikan gizi anak setelah kelahiran, juga diperlukan perhatian khusus terhadap gizi ibu menyusui. Pencegahan kurang gizi pada ibu dan anak merupakan investasi jangka panjang yang dapat memberi dampak baik pada generasi sekarang dan generasi selanjutnya. intervensi stunting yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif (TNP2K, 2017).

Dengan kegiatan pemberdayaan kader Kesehatan melalui kegiatan edukasi dan pelatihan diharapkan dapat memberikan daya ungkit untuk mencegah stunting di Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. Kader dapat menjadi pendamping ibu hamil dan ibu balita, mengenali factor risiko stunting dan dapat segera melapor dan melakukan rujukan kepada bidan pendamping di tingkat desa agar dapat didampingi dan dilakukan intervensi sehinga kejadian stunting dapat dicegah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button