Perempuan Harus Tahu Aksi Gerakan Berjarak di Masa New Normal

BENGKULU, newsikal.com – Gencar, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) merealisasikan Aksi Gerakan Berjarak di Provinsi Bengkulu. Aksi Gerakan Berjarak ini merupakan strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) dalam menghadapi masa pandemi Covid-19 ini.

Sasaran dalam kebijakan ini tentu Perempuan dan anak. Ini sebuah program yang dilakukan secara kolaborasai dan terintegrasi semua lembaga bahkan masyarakat.

Seperti yang disampaikan Kepala DP3APPKB, Forihta Ramadhani Wati, agar ini bisa terealisasi dengan baik, jadi hal ini harus kerja bersama, tidak bisa sendiri.

Saat Meraih Penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya

“Semuanya harus peduli dengan perempuan dan anak yang terdampak Covid-19. Apalagi perempuan atau anak tersebut terpapar Covid-19, maka semua linih harus saling peduli dan membantu,” ujarnya kepada newsikal.com saat ditemui di ruangannya beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, ada beberapa poin yang terdapat dalam Aksi Gerakan Berjarak ini yakni tetap di rumah, hak perempuan dan anak terpenuhi, APD, membuat tanda peringatan, menjaga jarak, mengawasi keluar masuk orang dan barang, menyebarkan informasi yang benar, aktivasi media komunikasi online dan aktivasi rumah rujukan.

“Pada poin pertama yakni tetap di rumah, ini menjadi hal paling penting bagi perempuan dan anak. Maka jika tidak terlalu penting jangan keluar. Karena apa, pola new normal harus di mulai dari perempuan dan anak,” ucapnya.

Ia juga menyebutkan, perempuan sebagai pelopor pertama menghadapi prilaku baru ini. Maka menurutnya, perempuan harus produktif, baik dalam hal kebersihan dan menerapkan protokol kesehatan dalam keluarga.

“Jadi jelas, prilaku baru dimulai dari keluarga yaitu perempuan,” cetusnya.

Poin kedua tak kalah penting yaitu hak perempuan dan anak harus terpenuhi di masa pandemi ini. Sebagai masyarakat yang terdampak Covid-19, perempuan dan anak memiliki kebutuhan khusus yang harus terpenuhi dan dibantu.

“Perempuan memiliki kebutuhan spesifik dan itu terbagi dari tiga kategori yakni remaja, dewasa dan lansia. Jelas misalnya remaja dan dewasa butuh pembalut bahkan lansia butuh pampers, maka itu kami sarankan pemberi bantuan harus lebih spesifik lagi,” ungkapnya.

Foritha juga menuturkan terkait tenggang rasa yakni terdapat pada poin empat. dirinya meminta untuk sama-sama peduli dengan masyarakat yang terdampak Covid-19.

“Jangan kucilkan, baik itu yang terpapar apalagi keluarga yang terpapar. sama-sama saling membantu dan memberikan semangat. setelah itu jaga lingkungan, bila perlu isolasi agar lingkungan menjadi zona hijau Covid-19,” katanya.

Pemimpin perempuan ini menginginkan, semua lembaga betul-betul bisa disinergikan tugas dan fungsinya masing-masing.

“Motivasi masyarakat khususnya perempuan dan anak dalam perubahan prilaku menghadapi new normal sampai berakhirnya pandemi ini,” tuturnya.

Ia juga menambahkan, terkait regulasi, surat edaran terkait hal ini akan beredar pada akhir bulan ini.(adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
Close