Poltekkes Kemenkes Bengkulu Ajari Masyarakat Pengomposan Sampah

BENGKULU, newsikal.com – Poltekkes Kemenkes Bengkulu melalu pengabdian masyarakat, ajari masyarakat Kota Bengkulu khususnya warga Penurunan untuk pandai mengompos sampah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing secara mandiri.

Dikatakan Kepala Unit PPM Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Yuniarti, SST, M.Kes, selama ini di perkotaan warga hanya berpartisipasi dalam pengelolaan sampah dengan membayar iuran sampah dan menyerahkan sepenuhnya pengelolaan sampah pada petugas sampah dan pemerintah kota yang akan mengangkut semua sampah rumah tangga ke TPA.

“Padahal meningkatnya jumlah penduduk dan perekonomian seiring dengan meningkatnya barang yang dibeli, berarti meningkat juga sampah yang ada. Beberapa sampah seperti plastik yang tidak bisa atau lama diuraikan menjadi semakin bertambah dan lama kelamaan sampah-sampah tersebut akan menumpuk,” ucapnya.

Lanjutnya juga, pengelolaan sampah plastik selama ini hanya dibakar, sementara pembakaran sampah plastik ini justru akan membuat permasalahan baru karena munculnya zat yang lebih beracun setelah sampah plastik dibakar.

“Kami ajarkan masyarakat cara pengomposan. Alhamdulilah animo masyarakat untuk mengelola sampah agar lingkungan yang sehat, asri, bebas sampah cukup tinggi dan akhirnya juga bisa terwujud,” ujarnya.

Dijelaskannya, pencapaian masing-masing TIK menunjukkan kecenderungan meningkat dengan prosentase telah mengalami kenaikan dengan kenaikan rata-rata sekitar 60 %. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang sampah dan permasalahannya serta pengelolaanya telah meningkat secara signifikan.

Dengan peningkatan pengetahuan ini maka kesadaran masyarakat juga akan tumbuh bahwa pengelolaan sampah memerlukan partisipasi dari setiap warga.

“Kami juga melakukan evaluasi dan pendampingan serta survei lapangan di lokasi warga tinggal. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada minggu ke 1 dan minggu ke 3 setelah sosialisasi maka terlihat beberapa warga sudah melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik yang dipisahkan kemudian dibuat menjadi pupuk,” terang Yuniarti.

Warga sudah mengetahui bahwa kegiatan pengelolaan sampah memerlukan partisipasi dari setiap warga yang dapat dimulai dari proses sederhana pemilahan sampah rumah tangga. Penggunaan konsep 3R (reuse, reduce, recycle) dapat menginspirasi warga untuk menjadikan sampah sebagai peluang untuk menambah pendapatan sekaligus menjaga lingkungan mereka sendiri.

Yuniarti, mengungkapkan, dirinya sangat berayukur bahwasanya paradigma masyarakat terhadap sampah yang awalnya hanya sebagai barang yang sudah tidak dapat dipakai lagi, menjadi barang yang masih mempunyai nilai ekonomi sudah mulai terwujud.

Dirinya juga akan terus memdampingi agar, kebiasaan masyarakat yang membuang sampah pada satu wadah menjadi beberapa wadah tetap konsisten. Supaya, dalam kegiatan masyarakat ini menjadi kebiasaan baru yang wajib dilakukan.

“Kegiatan serupa juga perlu dilakukan di tempat lain sehingga pengelolaan sampah benar-benar menjadi pengelolaan sampah yang berbasis partisipasi masyarkat,” pungkasnya.(kay/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close