Sebanyak 50 Ijazah di SMKS PGRI Juga Masih Belum Diambil

BENGKULU, newsikal.com – Dilema terkait ijazah yang belum diambil masih kian terasa. Hal ini rupanya juga dirasakan SMKS PGRI, sebanyak 50 ijazah belum diambil sampai sekarang.

Artinya, upaya Walikota Bengkulu Helmi Hasan dalam menyalamatkan ijazah yang masih tertahan masih belum selesai. Karena dari 50 ijazah tersebut termasuk milik warga kota Bengkulu.

Sejak lama, pihak sekolah sudah melakukan pemanggilan kepada wali murid untuk mengantarkan anaknya mengambil ijazah. Tapi dari 50 hanya 2 orang yang merespon dan berkomunikasi untuk mengambil ijazah.

Disampaikan Kepala SMKS PGRI Yumna Sriwati, S.P, pihaknya sudah berupaya maksimal meminta murid untuk mengambil ijazah. Tapi memang dikarenakan masih ada tunggakan, wali murid enggan datang ke sekolah dan memyelesaikannya.

“Sempat kami bertanya, kenapa belum juga diambil. Sebagian besar wali murid beralasan tak mampu membayar hutang tunggakan,” ujarnya.

Dirinya mengakui, tidak ada niat sedikitpun pihaknya untuk menahan ijazah, tetapi memang muridnya sendiri yang belum mengambil. Selain itu juga ada administrasi lain yang harus dilengkapi oleh murid salah satunya seperti cap sidik jari, itu tidak bisa diwakilkan.

“Kalau bicara keringanan, kami telah banyak memberi keringanan. Karena adapun tunggakan murid bahkan sejak dari SPP awal, hingga lulus sekalipun belum mengangsur,” ucapnya.

Maka tak heran tunggakan murid berkisar dari 1 juta sampai 6 juta rupiah. Apalagi sebagian murid yaitu masyarakat yang kurang mampu.

“Dibilang rugi ya pasti kami rugi, karena kami sekolah swasta. Tapi alhamdulilah sampai saat ini kami masih diberi kemampuan untuk bayar gaji guru, sisa sedikit baru kami belanjakan untuk keperluan sekolah,” cetusnya.

Semenjak viral aksi kemanusiaan Walikota Bengkulu Helmi Hasan, dirinya sangat berharap lulusan SMKS PGRI bisa terbantu. Tidak hanya murid, tetapi pihak sekolah pun ikut terbantu karena ada setoran tunggakan yang masuk.

“Kami sudah beri tahu ke murid dan wali murid untuk berkirim surat ke pihak terkait yang paling dekat seperti lurah atau camat. Lalu beri tahu ke Pak Dedy Wahyudi lalu isi formulirnya,” katanya.

Dikatakannya, anak-anak sangat mengharapkan bantuan dri siapappun. Banyak yang tidak tahu dan tidak peka terkait hal ini, pihak sekolah bahkan sempat berkoordinasi ke Baznas.(kai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
Close