Usai Penggusuran, Lahan Sungai Hitam Masih “Runyam”

BENGKULU, newsikal.com – Pasca penggusuran lapak pedagang oleh Pemerintah Kota Bengkulu di terminal Sungai Hitam lalu, belum ada titik terang. Penggusuran dinilai tak memiliki tujuan dan solusi.

Saat hearing di ruang rapat DPRD Kota Bengkulu, Selasa (26/2/2019), Perwakilan Dinas Perhubungan belum bisa menjelaskan rencana apa yang akan di bangun dari lahan yang telah digusur tersebut. Sementara, akibat penggusuran itu banyak warga yang terkena gusur masih luntang-lantung dan tidak punya tempat tinggal.

“Kami belum tahu pasti lahan ini mau dibangun apa,” kata Agus, perwakilan Dishub Kota Bengkulu.

Sedangkan, kuasa hukum pedagang sekaligus juru bicara yang sah, Fery Okta Trinanda, SH, meminta hal ini harus ada kejelasan dan segera ada keputusan.

“Mereka hanya pedagang kecil yang hidupnya dari hari ke hari. Mendapatkan uang hanya sekitar 30 ribuan per hari, agar kemudian bangunan yang mereka dirikan itu  diganti. Apa konpensasi atau kerohiman, jadi jelas ada uang berapapun nominalnya tolong segera di konfirmasikan dengan kami,” katanya.

Sementara, Anggota DPRD Kota Bengkulu Komisi II, Marliadi, memang DPRD mensupport pembangunan di Kota Bengkulu ini dalam hal pembangun apapun. Tetapi perlu diperjelas bagaimana nasib warga nantinya.

“Kita mensupport untuk pembangunan di Kota Bengkulu ini seperti apa untuk langka ke depanya, tetapi ada hal-hal yang harus kita perhatikan juga, apalagi  di sana ada masyarakat yang ketergantungan hidupnya,” ungkapnya.

Ia juga menyesali apa yang dilakukan Pemerintah Kota Bengkulu ini, dari hasil pertemuan ini diketahui, di sanalah warga mencari nafkah. Tetapi pemerintah sendiri yang mematikannya.

“Pemerintah sendiri belum punya solusi bagaimana ke depanya untuk fasilitas masyarakat tersebut. Mudah-mudahan nanti ada yang bisa difasilitasi pemerintah untuk masyrakat Sungai Hitam ini,” pungkasnya.(cw4/adv) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close