Selain Menyelamatkan Lingkungan, Sanitarian Bisa Jadi Pengusaha Limbah

BENGKULU, newsikal.com – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional, Himpunan Mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan (HMJKL) Poltekkes Kemenkes Bengkulu, menggelar Seminar Nasional bertajuk “ One Step Towards Young Sanitarian yang Berwirausaha Sanitasi dalam Modifikasi Limbah Sebagai Upaya Penyelamatan Bumi dalam Program GERMAS”, di Bengkulu, Kamis di aula The Madeline Hotel Bengkulu. (10/11/2018).

Seminar itu digelar berkat kerjasama antara HMJKL dengan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI). Peserta Seminar terdiri dari tenaga kesehatan di provinsi Bengkulu, mahasiswa jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Bengkulu,dan siswa-siswi SMA serta kejuruan yang tergabung dalam organisasi sekolah sadar lingkungan.

Acara yang dimulai pada pukul 08.00 WIB ini, menghadirkan tiga pembicara, yaitu Prof. Dr. Hj. Lucky Herawati, SKM, M.Sc, beliau merupakan guru besar pertama di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Republik Indonesia. Pembicara kedua yaitu merupakan seorang akademisi dan pakar limbah, Edwin Permana, ST, Dipl. WWTP, M.Pd, beliau juga seorang putra daerah Bengkulu yang telah malang melintang di dunia pengolahan limbah di dalam maupun luar negeri serta pernah menjuarai kompetisi inovasi internasional smartliving challange 2014 di Swedia.

Pembicara selanjutnya yakni, Moh. Gazali, SKM, MSc yang merupakan dosen jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

“Banyak lulusan D3 Kesehatan Lingkungan (sanitarian) yang hanya berpikiran bahwa meraka harus menjadi PNS, padahal jika mereka mau berpikir lebih terbuka, mereka bisa memanfaatkan sampah-sampah baik itu organik maupun non organik sebagai lahan usaha” ujar Prof. Dr. Hj. Lucky dihadapan ratusan undangan.

Selain itu, Moh. Gazali menyampaikan, kewirausahaan itu merupakan kemampuan untuk mengelola sesuatu yang ada dalam diri. “Maka, dalam berwirausaha kita harus berani usaha mandiri,” sampainya.

Ia juga menambahkan, modal tidak hanya sebatas uang, selebihnya
pengalaman, pengetahuan, keahlian, keberanian.

Sedangkan, Edwin Permana, mengatakan, hingga saat ini masyarakat kebanyak masih salah mengira, bahwa limbah industri merupakan sumber utama pencemaran sungai, padahal tidak demikian. Berdasarkan identifikasi, sumber utama pencemaran air sungai di Indonesia sebagian besar berasal dari limbah domestik atau rumah tangga, oleh karena itu dibutuhkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berfungsi untuk mengelola limbah cair.

“Kunci dasar seorang sanitarian dalam upaya mengelola masalah limbah yakni identifikasi masalah, analisis masalah dan berisolusi” ungkapnya.

Desti Anggraini selaku ketua panitia penyelenggara Seminar Nasional berharap, seminar yang diikuti oleh sanitarian, mahasiswa dan siswa-siswi penggiat lingkungan ini bermanfaat untuk meningkatkan lagi mutu tenaga-tenaga sanitarian, khususnya di Provinsi Bengkulu.

“Agar semuanya mengerti akan bahaya limbah baik itu domestik, industri dan rumah sakit jika tidak diolah dengan baik,” singkat Desi.

Insan akademik yaitu para dosen dan mahasiswa, lanjutnya harus menjadi man of reasoning yang aktif, dan tidak menjadi man of public speaking, yang selalu harus sarat dengan ide-ide dan pertanyaan yang harus dicarikan jawabannya.(kay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close